Essay Tentang Fenomena Dekadensi Moral Di Era Globalisasi

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatu..

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas tentang cara mengatasi dekadensi moral pada masyarakat, dengan cara dakwah ala wali songo. Namun sebelumnya, lebih baik kita mengetahui dulu tentang apa itu dekadensi moral.

Sumber gambar ms.wikipedia.org

Apakah dekadensi moral itu?

Dekadensi moral adalah penurunan atau kemerosotan moral. Jika diartikan secara bebas dan lebih luas lagi, dekadensi moral adalah kemerosotan atau menurunnya moral pada seseorang yang diakibatkan oleh faktor-faktor tertentu.

Seperti kita ketahui bahwa dewasa ini dekadensi moral yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Indonesia sungguh sangat terasa. Sebagai buktinya, lihatlah di sekeliling kita, bahwa kasus-kasus kejahatan semakin hari semakin meningkat.

Mulai dari pencurian, penjarahan, perampokan, perzinahan, penipuan, pemerkosaan, pelecehan seksual, perjudian, dan masih banyak lagi, termasuk pembunuhan. Yang jelas fakta membuktikan bahwa semakin hari, akibat menurunnya kualitas moral masyarakat ini semakin banyak saja yang menjadi korbannya.

Kalau sudah seperti ini, siapakah yang kasihan? ya jelas, yang kasihan adalah orang yang menjadi korban, termasuk saya ataupun Anda. Saya yakin Anda pasti pernah menjadi korban dari kasus kejahatan akibat dekadensi moral ini bukan?

Sebenarnya apakah penyebab dekadensi moral itu?

Ada banyak akibat, tentu ada pula penyebabnya. Sama halnya dengan dekadensi moral, bahwa penyebabnya sangatlah banyak. Setidaknya ini menurut pandangan saya pribadi, yang melihat dari berbagai penurunan moral yang terjadi di sekitar saya.

Inilah penyebab dekadensi moral

1. Pengaruh budaya asing yang tidak baik

Maksud saya di sini bukannya semua budaya asing itu tidak baik, melainkan khusus budaya asing yang jelek-jeleknya saja. Sebagai mana Anda lihat, bahwa budaya asing yang tidak baik dapat merusak moral masyarakat. Seperti contoh konsumsi narkoba, miras, pembuatan tato, seks bebas, dll.

Saya sangat prihatin ketika budaya asing yang buruk, juga dapat menurunkan moral generasi muda bangsa ini. Sebagai contoh, seorang anak sudah tidak memiliki tata krama lagi dalam memanggil orang yang lebih tua. Padahal Indonesia kan punya budaya yang baik untuk memenggil orang yang lebih tua, dengan sebutan bapak, ibu, kakak, bibi, tante, om, paman, kakek, nenek, dan "Anda". Tidak seperti budaya barat yang memanggil semua orang dengan sebutan "you" alias kamu.

Budaya asing juga telah mempengaruhi gaya hidup seseorang, baik itu gaya berpakaian, gaya bergaul, atau pun gaya dalam berbicara. Budaya barat telah sukses disuntikkan ke dalam urat nadi Bangsa Indonesia, ketika telah banyak masyarakat yang berpakaian ala barat yang melanggar syariat, ketika banyak yang bergaul secara bebas tanpa batas, ketika banyak yang berkata-kata tanpa perlu berfikir, apakah yang keluar dari mulutnya baik atau buruk.

2. Akibat pergaulan bebas

Sungguh sangat disayangkan, ketika banyak sekali orang-orang yang bergaul secara bebas, namun tidak mau memilah dan memilih pergaulan yang benar, dan teman pergaulan yang baik.

Akibatnya banyak dari mereka yang ikut terjerumus di dalam kesesatan karena tidak mau memagari dirinya sendiri. Berteman dengan pemabuk, pasti akan ikut-ikutan menjadi peminum. Bergaul dengan pecandu narkoba, pastinya juga akan menjadi pecandu.

Yang jelas akibat pergaulan bebas, akan berdampak buruk bagi moral seseorang. Akibat pergaulan bebas, seseorang menjadi acuh tak acuh, semau-maunya sendiri, tanpa peduli kepada siapapun atas apa yang akan mereka lakukan.

3. Akibat media yang merusak

Media merupakan sarana nomor wahid sebagai tempat menyebarluaskan berita, ilmu, dan pengetahuan baru. Namun, sungguh sayang sekali jika media jugalah yang menjadi sarana nomor satu untuk menyebarkan budaya-budaya rusak, termasuk budaya asing yang buruk.

Di televisi, majalah dan internet, pornografi tersebar luaskan. Model busana-busana yang seolah hakikatnya telanjang pun, telah banyak ditayangkan di media-media tersebut. Akibatnya, yang seperti itu akan di tiru oleh muda-mudi Bangsa kita, bahkan termasuk orang yang sudah tua sekali pun.

Adegan-adegan mesum, diskotik, perkelahian, tawuran, dll, juga turut andil memberikan contoh tidak baik kepada masyarakat Indonesia, yang tentunya disebarkan melalui media. Belum lagi gosip-gosip selebriti yang sibuk cerai sana-sini, tentunya menambah ilmu rusak bagi masyarakat, untuk mencontohnya. Sehingga, penurunan moral akibat media yang merusak ini pun tidak bisa terelakkan lagi.

4. Akibat perkembangan teknologi

Harus kita akui bahwa perkembangan teknologi memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Namun sayang, perkembangan teknologi juga turut membawa dampak buruk bagi manusia, Salah satunya adalah dekadensi moral.

Dulu, sebelum teknologi jauh berkembang seperti sekarang ini, anak-anak muda setelah magrib sibuk mengaji. Tapi kini, habis magrib sibuk menonton TV. Dulu sibuk menghafal Qur'an, sekarang sibuk dengan gadget barunya. Dulu sibuk membantu orang tua, sekarang sibuk internetan.

Sekarang, banyak manusia yang menghambakan diri pada teknologi, dan terlena untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Akibatnya, ilmu yang baik-baik pun mulai luntur dari kehidupan manusia, dan berganti dengan ilmu yang buruk-buruk yang didapatkan dari berbagai teknologi yang dapat melenakan tersebut.

5. Kurangnya pengetahuan agama

Agamalah yang mendidik manusia untuk selalu berbuat baik, apakah itu kepada Allah, sesama manusia, ataupun kepada binatang. Ilmu agamalah yang membuat akhlak manusia mengalami kemajuan, selalu menjaga diri dari perbuatan buruk, dan mengamalkan kebaikan kepada semuanya.

Maka dari itu, kurangnya pengetahuan agama pada manusia, pastilah berakibat pada menurunnya kualitas manusia tersebut. Terlebih jika di tambah dengan pengaruh budaya asing yang tidak baik, akibat pergaulan bebas, akibat media yang merusak serta perkembangan teknologi masa kini, yang tentunya semakin ampuh menjerumuskan manusia kepada perbuatan yang lebih parah lagi.

Jika penurunan moral masyarakat tidak segera teratasi, dikhawatirkan akan mengakibatkan sesuatu yang lebih buruk dari itu, yaitu kondisi di mana moral-moral akan mengalami kerusakan. Saya ingatkan bahwa ini bukan sekedar penurunan lagi, tapi lebih kepada kerusakan.

Jika hal ini telah sampai, dapat dibayangkan kengerian yang akan terjadi, bahwa orang yang mencuri akan menjadi pencuri. Orang yang menipu akan menjadi penipu. Orang yang membunuh akan menjadi pembunuh. Dan masih banyak lagi akibat yang akan ditimbulkan dari rusaknya moral masyarakat ini.

Dalam kondisi seperti ini, dapat dipastikan tidak ada rasa aman lagi bagi saya, atau pun Anda. Tidak ada rasa aman bagi kita semuanya, tanpa terkecuali. Tidak ada rasa aman bagi orang yang berjalan sendirian di malam hari. Tidak ada rasa aman menyimpan uang di dalam saku saat bepergian. Tidak ada rasa aman lagi menaruh kendaraan di luar rumah. Bahkan, tidak ada rasa aman lagi bagi siapa pun untuk menyimpan harta mereka, meski pun itu di rumah-rumah mereka sendiri.

Seolah, tidak ada tempat aman lagi di dunia ini bagi orang yang hidup. Dimanapun dan kapanpun, selalu dihantui dengan perasaan cemas serta waswas, karena takut dengan apa yang akan menimpa dirinya. Sungguh buruk yang akan terjadi, akibat dekadensi moral itu. Untuk itu, harus segera di atasi dengan secepat mungkin, agar kerusakan Bangsa ini tidak segera terjadi.

Bagaimana mengatasi dekadensi moral pada masyarakat Indonesia itu?

Seperti yang telah saya angkat untuk tulisan ini, bahwa cara mengatasi dekadensi moral yang saya bahas, adalah dengan cara dakwah ala Wali Songo. Mengapa saya memilih wali songo untuk dijadikan contoh? itu karena wali songo merupakan mubaligh yang mempunyai banyak pengalaman berdakwah di Nusantara ini.

Kemudian fakta bahwa Wali Songo telah sukses berdakwah mengajarkan Islam Ahlussnunnah Wal jamaah di tanah Jawa, tentunya dengan dakwah yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat itu. Wali Songo juga dikenal manusia yang berdakwah dengan hampir tanpa kekerasan, namun mampu membuat sebagian besar masyarakat jawa memeluk Islam, bahkan hingga ke luar Jawa.

Sebagian dari Wali Songo berdakwah dengan melakukan pendekatan kultural/budaya, seperti yang dilakukan oleh Sunan Bonang, yang berdakwah melalui wayang dan gamelan jawa. Contoh dakwah seperti inilah yang harus dijadikan inspirasi untuk saat ini. Namun intinya bukan pada apa yang digunakan untuk berdakwah, tapi lebih kepada metode berdakwah bagaimana yang digunakan.

Sumber gambar kayakae.wordpress.com

Kalau Sunan Bonang menggunakan wayang kulit sebagai media berdakwah, bukan berarti kita harus menggunakan wayang kulit juga. Tetapi, kita bisa mengambil hikmah dari cara tersebut, bahwa Sunan Bonang berdakwah dengan metode pendekatan terhadap apa yang disukai masyarakat dan yang menjadi tren saat itu.

Oleh karena itu kita harus mencontoh para Sunan, termasuk Sunan Bonang tersebut di dalam berdakwah. Kita harus jeli seperti para wali di dalam melihat kondisi masyarakat, termasuk apa yang mereka sukai dan yang mereka tidak sukai. Mengapa? Agar dakwah kita mudah diterima masyarakat dan tidak mengalami kesulitan, termasuk penentangan.

Untuk berdakwah di masa kini, target kita adalah anak-anak, remaja dan orang tua, baik laki-laki mau pun perempuan. Dalam artian, bahwa dakwah kita adalah dakwah bagi semua kalangan tanpa terkecuali. Untuk itu, kita harus mengetahui apa yang anak-anak sukai, apa yang remaja sukai, dan apa yang orang tua sukai.

Misalnya anak-anak suka dengan film kartun, maka kita bisa memanfaatkan peluang ini untuk membuat kartun yang menyelipkan dakwah di dalam cerita kartun tersebut. Anak-anak suka dongeng, kita bisa membuat dongeng fiksi atau non fiksi, yang menceritakan tentang keutamaan-keutamaan beribadah dll.

Remaja suka sinetron, kita bisa membuat sinetron yang bernafaskan religi. Remaja suka membaca novel, kita bisa membuat novel-novel religi yang mendidik. Remaja suka musik, kita bisa memanfaatkan ini, dengan membuat musik-musik religi yang disesuaikan dengan aliran musik yang disukai remaja.

Orang tua suka humor, kita bisa mengakali dakwah kita dengan menyelipkan sedikit humor, agar dakwah kita tidak kaku, dan tentunya disukai banyak kalangan. Tentunya dengan humor yang porsinya pas, tidak terlalu berlebihan.

Ustadz Maulana Yang Berdakwah Sambil Menghibur

Wanita suka tren busana, kita bisa membuat busana-busana muslim baru, jilbab-jilbab baru, yang sesuai dengan kesukaan wanita.  Baik model maupun warna, bisa kita sesuaikan dengan perkembangan fashion masa kini. Dengan demikian, akan semakin banyak wanita yang membiasakan diri untuk berhijab, meskipun belum setiap hari.

Karena media sosial kini menjadi tren di berbagai kalangan, kita juga bisa memanfaatkan media-media sosial seperti facebook dan twitter untuk berdakwah.

Dengan cara-cara yang demikian, diharapkan dapat menjadi jalan untuk mendekati berbagai kalangan, meskipun prosesnya sedikit-demi sedikit. Namun saya yakin, jika kita lakukan bersama dan saling mengingatkan, Insya Allah hasilnya akan lebih baik lagi.

Sekarang, kewajiban berdakwah ini bukan lagi di pundak Nabi atau pun para Wali. Bukan hanya bagi ulama' atau pun penguasa. Akan tetapi, kewajiban ini telah menjadi tanggung jawab saya, Anda, dan kita semuanya. Kita memang tidak sebaik Nabi dan para Wali dalam berdakwah, akan tetapi saya yakin, ketika kita bersatu, kita adalah wali ke sepuluh.

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ


“Siapa saja yang melihat kemungkaran hendaknya ia mengubah dengan tangannya. Jika dengan tangan tidak mampu, hendaklah ia ubah dengan lisannya; dan jika dengan lisan tidak mampu maka ubahlah dengan hatinya; dan ini adalah selemah-lemah iman.[HR. Muslim]

Semua dari kita bisa bekerja sama. Penguasa melarang segala bentuk maksiat yang menyebar di Negeri tercinta ini, seperti miras, narkoba, perjudian, tempat prostituli dll. Ulama' mengingatkan dan menyadarkan manusia akan agama, dan hakikat hidup yang sebenarnya adalah untuk beribadah kepada Allah.

Polisi benar-benar menangkap tindak kriminal, dan hakim memutuskan hukuman yang adil terhadap pelaku kejahatan. Para blogger dan para penulis, berhenti dari membuat tulisan dan konten yang merugikan, dan beralih membuat tulisan yang menginspirasi, bermanfaat dan bernafaskan Islam. Para perancang busana berhenti membuat baju-baju yang melanggar syariat, dan beralih membuat busana-busana muslim yang cantik.

Para musisi membuat lagu-lagu religi yang menyentuh dan menyadarkan umat. Para pemilik stasiun tv membuat tayangan-tayangan bermanfaat dan memperbanyak persentasi dakwah di tayangan tv tersebut. Para produser membuat film-film yang mendidik dan bernilai dakwah.

Orang tua mendidik anaknya dengan didikan yang baik, serta membentengi anak-anaknya dari pergaulan bebas. Masyarakat biasa bisa saling mengingatkan, dan menjalankan kewajiban untuk mematuhi aturan tuhan dan aturan pemerintah yang berlaku, selagi itu untuk kebaikan.

Jika semuanya sudah seperti ini, insya Allah kita akan meraih kesuksesan seperti yang di raih oleh Nabi Muhammad dan Wali Songo dalam berdakwah. Kemudian, bukan mustahil Indonesia Raya sebagai Mercusuar Dunia Akan segera terlahir, dan siap menjadi teladan bagi negara-negara lainnya. AMin..

Wassalamualaikum waroh matullahi wabaro katu..

Tulisan ini diikusertakan dalam lomba kontes blog muslim 2 "Wali Songo & Teladan Sukses Berdakwah"



www.cyberdakwah.com – Media Islam Terdepan
www.muslimedianews.com – Voice of Moslem
www.nu.or.id – Website resmi Nahdlatul Ulama
www.habiblutfi.net – Dakwah teduh dan cinta tanah air
www.streamingislami.com – Streaming dakwah Islam terlengkap

BUDAYA INDONESIA DI TENGAH ARUS GLOBALISASI

A. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Konsepsi kebudayaan Indonesia memang sangat sulit untuk menentukan kriteria yang cocok untuk masyarakat yang hidup di negara ini. Pancasila sebagai basis ideologi, yang menyimpan nilai-nilai ‘Bhinneka Tunggal Ika’ belum cukup untuk membicarakan kebudayaan Indonesia. Secara tekstual, Pancasila memang sangat relevan dengan ragam budaya yang ada. Akan tetapi, dalam realitasnya, masih banyak yang menanyakan kejelasan nilai-nilai pancasila itu sendiri. Dari sini, kita tidak dapat menyalahkan kondisi realitas tersebut. Pemerintah sebagai pemegang kekuasan dalam hal ini, harus cepat tanggap, melihat fenomena-fenomena ketidakpuasan terhadap nilai-nilai ideologi pancasila, gejolak dekadensi moralitas bangsa. Karena, ketimpangan sosial, kesejahteraan, keadilan, kemanusiaan yang ada dalam pancasila, sudahkah aplikatif terhadap masyarakat saat ini. Kalau memang belum, satu kewajaran bila ada yang mempertanyakan kejelasan nilai-nilai pancasila yang dianggap sebagai nilai-nilai dan identitas kebudayaan bangsa Indonesia. Kalau memang sudah, mari kita lihat bersama realitas obyektif yang terjadi dalam masyarakat saat ini.

Ketidak jelasan akan pemahaman nilai-nilai kebudayaan sangat dipengaruhi oleh pola fikir yang sedang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Arus budaya globalisasi yang sudah mengakar dan mendarah-daging pada pola fikir masyarakat sosial. Demikian itu sudah jelas, bila dilihat dari budaya konsumtif, instan, stail, gaya hidup dan lain-lain. Budaya globalisasi tidak dapat dibendung, ditentang, apalagi ditolak. Yang mesti kita lakukan sekarang ini adalah bagaimana budaya globalisasi mendatangkan manfaat bagi budaya Indonesia, serta bagaimana memfilterisasi budaya tersebut yang mempengaruhi pada pola fikir kebudayaan bangsa Indonesia.[1]

  1. Fokus Pembahasan

Fokus pembahasan dalam makalah ini adalah bagaimana konsepsi dan landasan kebudayaan Indonesia? Budaya globalisasi seperti apa (secara defenitif) yang akan ditentukan dapat mempengaruhi kebudayaan bangsa ini? Dan, Bagaimana Pengaruh dan dampak globalisasi terhadap keberadaan kebudayaan Indonesia? Serta, seperti apa nantinya kebudayaan Indonesia dalam arus budaya globalisasi yang sudah menjadi pola fikir masyarakat sekarang ini?

B. PEMBAHASAN

1. Budaya Indonesia dan Globalisasi

Kesadaran akan pentingnya memperhatikan kebudayaan nampaknya semakin meningkat. Hal ini jelas tidak bertentangan dengan titik berat bidang kesadaran akan adanya rongrongan dari luar (globalisasi). Sebaliknya, justru kesadaran akan pentingnya pendekatan budaya, mengingatkan kita bahwa bagaimanapun jalan yang ditempuh, tetaplah manusia sebagai tujuan dan subyek globalisasi.[2] Hendaknya manusia tidak dikorbankan untuk mencapai tujuan lain selain dirinya.

Kendati ada sinar-sinar cerah yang menggembirakan, cukup memprihatinkan juga bahwa lalu pendekatan kebudayaan diartikan semata-mata sebagai kesenian. Sedangkan kita sudah cukup paham bahwa kesenian dan kebudayaan yang kebanyakan diperlihatkan melalui pendekatan visualisasi simbol-simbol seni dan budaya tersebut. Sepertihalnya dunia hiburan, film-film, sinetron dan tontonan televisi yang itu semua produk globalisasi.[3] Pada dasarnya, kebudayaan adalah keseluruhan hidup, proses dan aktivitas manusia dalam keberadaannya dimuka bumi ini. Jika membicarakan bangsa ini, maka arti kebudayaan adalah penjelmaan kelakuan sekelompok manusia berpokok pada pola sikap budi manusia yang berdasarkan pemandangan hidup dunia serta melahirkan mentalitas dan cara berfikir kebudayaan.

Lain dari pembicaraan kesadaran akan kebudayaan yang ada di Indonesia, hal yang paling utama yang harus disadari adalah mengenai globalisasi. Keberadaan globalisasi di tengah-tengah budaya yang belum jelas adalah satu keniscayaan. Berbicara mengenai globalisasi berarti membicarakan dunia dalam konstalasi politk, ekonomi, social-budaya. Bangsa ini disatu sisi memiliki kebudayaan, sisi lain budaya globalisasi cukup erat kaitannya dengan perubahan kebudayaan  tersebut.

Dalam arus globalisasi, tidak luput juga membicarakan negara-negara maju, bekembang, dunia pertama, kedua dan ketiga. Sebab, keberadaan negara-negara tersebut turut menentukan kemana arah arus globalisasi nantinya. Sebagaimana yang dikatakan seorang penulis asal Kenya bernama Ngugi Wa Thiong’o, menyebutkan bahwa perilaku dunia Barat, khususnya Amerika, sedemikian rupa sehingga mereka seolah-olah sedang melemparkan bom budaya terhadap rakyat dunia. Mereka berusaha untuk menghancurkan tradisi dan bahasa pribumi sehingga bangsa-bangsa tersebut kebingungan dalam upaya mencari indentitas budaya nasionalnya.[4] Penulis Kenya ini meyakini bahwa budaya asing yang berkuasa di berbagai bangsa, dulu dipaksakan lewat imperialisme dan kini dilakukan dalam bentuk yang lebih meluas dengan nama globalisasi.

Globalisasi secara defenitif memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian orang menafsirkan globalisasi sebagai proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia sebagaimana layaknya sebuah perkampungan kecil. Sebagian lainnya menyebutkan bahwa globalisasi adalah upaya penyatuan masyarakat dunia dari sisi gaya hidup, orientasi, dan budaya. Globalisasi menyentuh berbagai aspek kehidupan, antara lain seni. Dalam rangka mengamati dan meneliti proses globalisasi dalam dunia seni, baru-baru ini di Teheran, Iran, telah diselenggarakan sebuah seminar internasional dengan tema “Seni dan Globalisasi”. Seminar ini dihadiri oleh 20 cendikiawan Iran dan 23 cendikiawan asing dari 15 negara, antara lain Perancis, Tunisia, Russia, Nigeria, Turki, Zimbabwe, Kenya, Italia, Cina, Lebanon, Mesir, Afrika Selatan, Kanada, dan Tanzania.

Banyak tanggapan dari budayawan Indonesia. Tanggapan-tanggapan itu tentunya berhubungan dengan pesan yang dapat diambil dari seminar itu. Salah seorang budayawan yang menyatakan harapannya agar seminar ini berhasil mendefinisikan dengan baik berbagai kesempatan dan ancaman yang akan melanda manusia pada era globalisasi. Selain itu, peserta seminar hendaknya mencari jalan praktis dalam meningkatkan kemampuan seni dan budaya pribumi, agar mampu berdiri kokoh di dalam tatanan baru dunia. Salah seorang peneliti Iran yang aktif dalam bidang budaya tradisional, meyakini bahwa dalam era globalisasi ini bangsa-bangsa harus memproduksi karya-karya budaya yang sesuai dengan tuntutan pasar dunia. Dalam hal ini sudah waktunya para budayawan Indonesia harus menggali  dan menemukan keistimewaan-keistimewaan budaya yang terkandung dalam nilai-nilai ideologi pancasila, lalu memperkenalkannya kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya dan masyarakat bangsa-bangsa lain umumnya.

2. Dampak Globalisasi Terhadap Seni dan Budaya

Mengenai globalisasi dalam kerangka Barat yang ingin menyamakan budaya masyarakat yang ada di dunia ini, dapat dicurigai bahwa hal itu merupakan satu campur tangan terhadap hukum alam dan penciptaan. Pada dasarnya, proses globalisasi yang alami haruslah sesuai dengan yang disebut oleh Al-Quran, yaitu “bahwa Allah menciptakan manusia dalam berbagai bangsa dan suku, supaya mereka lebih saling mengenal antara satu sama lain”. Namun globalisasi telah menimbulkan masalah kepada proses ini karena berusaha memaksakan satu budaya agar diterapkan kepada bangsa-bangsa yang berbeda, dan itu artinya kebudayaan pribumi (Indonesia) bangsa-bangsa saat ini menjadi tersingkir dan tidak mendapatkan ruang artikulasinya.[5]

Proses globalisasi yang seimbang dengan kehidupan manusia dan sepanjang sejarah manusia, memang selalu terdapat upaya manusia untuk mendekatkan diri antara satu sama lain dan mencari titik persamaan. Tetapi, di sepanjang 30 tahun terakhir, negara-negara Barat berusaha memaksa masyarakat dunia untuk menerima nilai-nilai Barat secara mutlak. Hal itu sangat berbahaya dan jika terus berkelanjutan, proses ini akan menyebabkan hegemoni Barat dan Amerika terhadap negara-negara lain.[6]

Selanjutnya, globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan nilai-nilai budaya. Dalam proses alami ini, setiap bangsa akan berusaha menyesuaikan budaya mereka dengan perkembangan baru sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan dan menghindari kehancuran. Tetapi, dalam proses ini, negara-negara Dunia Ketiga harus memperkokoh dimensi budaya mereka dan memelihara struktur nilai-nilainya agar tidak dieliminasi oleh budaya asing. Dalam rangka ini, berbagai bangsa Dunia Ketiga haruslah mendapatkan informasi ilmiah yang bermanfaat dan menambah pengalaman mereka.

Globalisasi mungkin saja mendatangkan musibah kepada seni dan kebudayaan kita, karena ia sama seperti badai taufan yang mungkin mencabut akar budaya. Tetapi dari sudut pandang yang lain, globalisasi bisa memberikan kesempatan istimewa untuk bangsa-bangsa yang kaya dengan budaya. Seni kita akan tersebar ke luar batas negara dan memberikan pengaruh kepada dunia. Sejarah menyaksikan bahwa pada berbagai era kegemilangan, seni dan kebudayaan Indonesia menemukan identitasnya. Tapi kerena masuknya budaya globalisasi, kebudayaan kita terreduksi oleh arus budaya yang lebih besar. Masalah inilah yang mungkin terjadi hari ini. Karena itu, bangsa Indonesia yang percaya kepada kekuatan akar budaya tidak perlu takut pada pengaruh asing. Kita harus berusaha untuk memahami bagaimana seni dan kebudayaan bisa menjadi benteng pertahanan identitas dan tradisi kita selanjutnya.

  1. Globalisasi dan Tantangan  Masa Depan Budaya Indonesia

Melihat budaya Indonesia dalam arus globalisasi, sedikit dan banyaknya pasti mengalami perubahan. Untuk mempertahankan identitas keindonesian, perlu kiranya kita memikirkan kembali konsepsi kebudayaan Indonesia. Sekedar sebuah refleksi, budaya Indonesia seharusnya dapat ditentukan bagaimana ciri khas pola laku, fikir dan moraliras bangsa ini semestinya. Untuk memenuhi hal tersebut, maka diperlukan pengkajian ulang kebudayaan yang identik dengan masyarakat dan realitas social di Negara ini.

Agar tercipta apa yang dinamakan ‘melek budaya’,[7] kita mestinya mengupayakan rekosntruksi kebudayaan Indonesia dengan menimbang beberapa hal; Pertama, meneliti dengan seksama gagasan-gagasan para pemikir kebudayaan Indonesia sejak sebelum kemerdekaan. Kedua, meneliti politik kebudayaan setiap rezim pemerintahan yang berkuasa di Indonesia, sejak semula kemerdekaan, Orde lama, Orde baru dan zaman reformasi yang meliputi konsepsi kebudayaan apa, konstruk kebudayaan seperti apa, oleh siapa, strategi kebudayaan macam apa saja yang digunakan, rancang proyeksi kebudayaan Indonesia yang bagaimana, sehingga sekarang kita perlu merekonstruksi. Ketiga, meneliti secara seksama nilai-nilai asli yang ada di masyarakat dan perubahan-perubahan pada masyarakat. Keempat, posisi Indonesia di tengah-tengah kepungan arus besar globalisasi dan ragam kuasa kebudayaan dunia.[8]

C. KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah, apapun konsepsi tentang perubahan, rekonstruksi kebudayaan Indonesia yang ditawarkan, apakah jawaban-jawaban kita untuk merekonstruksi kebudayaan nantinya secara riil benar-benar tepat, relevan, fungsional dan efektif terhadap masalah-masalah kita? Tugas para budayawan, intelektual adalah melakukan penelitian, lewat ragam cara, persfektif, pisau analisis dan formulasi, sosialisasi, gerak politis sosio-kultur, lalu merekomendasikan hasilnya kepada pemerintah, pemilik kekuasaan dan political will.

DAFTAR PUSTAKA

Ø       Berger, Asa, Artur. 2000. Tanda-Tanda Dalam Kebudayaan Kontempore.Yogyakarta: Tiara Wacana.

Ø       Poespawardojo, Soerjanto. 1993. Strategi Kebudayaan; Suatu Pendekatan Filosofis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Ø       Karim, Abdul, Sukandi. 1999. Sang Pujangga; 70 Tahun Polemik KebudayaanMenyongsong Satu Abad S. Takdir Alisyahbana. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


[1] Sukandi Abdul Karim, Sang Pujangga; 70 Tahun Polemik Kebudayaan Menyongsong Satu Abad S. Takdir Alisyahbana, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hal 5-7.

[2] Artur Asa Berger, Tanda-Tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2000), hal 1-5.

[3] Soerjanto Poespawardojo, Strategi Kebudayaan; Suatu Pendekatan Filosofis, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), hal 87-90.

[4]Ibid. hal 105-110.

[5] Sukandi Abdul Karim, Op.Cit., hal 336-337.

[6] Soerjanto Poespawardojo, Op.Cit., hal 63-65.

[7] Artur Asa Berger, Op.Cit ., hal.205-207.

[8] Sukandi Abdul Karim, Op.Cit., hal xix-xx.


Categories: 1

0 Replies to “Essay Tentang Fenomena Dekadensi Moral Di Era Globalisasi”

Leave a comment

L'indirizzo email non verrà pubblicato. I campi obbligatori sono contrassegnati *